BAB IV
Kesimpulan


Secara historis tasawuf telah mengalami perkembangannya melalui beberapa tahap sejak pertumbuhan hingga keadaannya sekarang. Tahap pertama tasawuf masih berupa zuhud dalam pengertian yang masih sangat sederhana, yaitu abad ke- I dan ke- 2 H, tatkala sekelompok kaum Muslim memusatkan perhatian dan memprioritaskan hidupnya hanya pada pelaksanaan ibadah untuk mengejar kepentingan akhirat.
Kehidupan “model” zuhud kemudian berkembang pada abad ke- 3 H ketika kaum sufi melalui memperhatikan aspek-aspek teoritis dalam rangka pembentukan tasawuf menjadi sebuah ilmu akhlak keagamaan. Pembahasan luas dalam bidang akhlak mendorong lahirnya pendalaman studi gejala-gejala kejiwaan. Pemikiran-pemikiran yang lahir selanjutnya terlibat dalam masalah-masalah epistemologis, yang bagaimanapun berkaitan langsung dengan pembahasan mengenai hubungan manusia dengan Allah Swt., dan sebaliknya sehingga lahir konsep-konsep seperit fana (peniadaan diri), ilmu huduri, wahdatul wujud (kesatuan wujud), dan lain-lain.
Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Dia bisa dipahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluky. Dan bisa memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Dia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yaitu Ka’bah dan secara ruhaniah mereka berlomba-lomba menempuh jalan tarekat melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang satu, Allah Swt.


Daftar Pustaka

 as-Sarraj, Abu Nashr, al-Luma’ ; Lajnah Nasyr at-Turats ash-Shufi, Edisi Terjemah, Surabaya: Risalah Gusti, 2002 Cet ke- I

Baqir, Haidar, “Antara Tasawuf Eksesif dan Tasawuf Positif”, Sufisme Kota, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, Cet. I, 2001.

--------,Manusia Modern Mendamba Allah; Renungan Tasawuf Positif, (Jakarta: IIMaN dan Hikmah, Cet. I, 2002), hal. xi.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994, Cet. Ke-3

Fakhry, Majid, a Short Introduction to Islamic Philosophy, Theology and Mysticism, England: Onewolrd Publication, 1997.
Mubarak, Achmad, “Relevansi Tasawuf dengan Problem Kejiwaan Manusia Modern,” Manusia Modern Mendamba Allah; Renungan Tasawuf Positif, Jakarta: IIMaN dan Hikmah, Cet. I, 2002.

Mu’ti, A. Wahib, Tasawuf dalam Islam, (Jakarta: UIA Asyafi’iyah, 2009.

Nasichah, “Dakwah Pada Masyarakat Modern; Problem Kehampaan Spiritual”, Da’wah Jurnal Kajian Dakwah, Komunikasi dan Budaya, Vol. X, No. II, (Jakarta: Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatulah Jakarta, 2003), hal. 103.

Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1995 Cet ke- 9

Rakhmat, Jalaluddin, Reformasi Sufistik, Bandung: Pustaka Hidayah, 1988.

Shihab, Alwi, “Akhlak sebagai Sasaran Tasawuf,” Manusia Modern Mendamba Allah; Renungan Tasawuf Positif, (Jakarta: IIMaN dan Hikmah, Cet. I, 2002), hal. 180.

--------,“Islam Sufistik; “Islam Pertama” dan Pengaruhnya hingga Kini di Indonesia, Bandung: Mizan, 2001, Cet. Ke- I  

Syukur, Amin, Menggugat Tasawuf; Sufimse dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, Cet. Ke- I
Reactions:

Post a Comment

 
Top