F.   Hakikat Utama al-Qur’an Surat ‘Abasa Ayat 17-23
Seandainya manusia menyadari asal kejadiannya, maka niscaya ia tidak akan bersikap sombong dan tidak akan ingkar kepada Rabb yang telah memberikan banyak nikmat kepadanya. Bukankah Allah telah menciptakannya dari setetes air, lalu Dia menyempurnakan bentuknya seperti layaknya manusia, yaitu memiliki anggota-anggota tubuh yang lengkap.
Kemudian Allah swt., memberikan akal kepadanya, yang dengan akal itu dia dapat memperoleh petunjuk ke jalan hidayah. Dan Allah telah memudahkan baginya untuk menempuh jalan hidayah itu dengan memberi keistimewaan-keistimewaan yang telah dibekalkan di dalam dirinya. Hingga apabila perjalanan hidup telah selesai, Allah mematikannya, lalu menjadikan tempat peristirahatannya di dalam kubur, yaitu di dalam tanah sebagai penghormatan untuknya. Apabila telah tiba saatnya hari kiamat, Allah menghidupkannya kembali agar menjalani hisab dan memberikan balasan atas semua amal perbuatan yang telah dikerjakannya. Apabila ternyata perbuatan-perbuatannya itu baik, maka balasannya baik; dan apabila buruk, maka balasannya pun buruk pula.
Berangkat pengertian ini timbul suatu pertanyan, apakah manusia itu telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari hisab? Hal ini dijawab oleh Allah melalui  firman-Nya:

(23). sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
(QS. ‘Abasa [80]: 23)
Ayat ini merupakan sanggahan yang ditujukan kepada orang kafir dan sekaligus sebagai celaan atas kekafirannya. Dia adalah orang yang sembrono, tidak mensyukuri Penciptaannya, dan pula tidak mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya untuk menjadi bekal pada hari hisab.
            Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, pelajaran yang dapat di ambil dari al-Qur’an Surat ‘Abasa Ayat 17-23 di antaranya;
Pertama, penjelasan tentang kemampuan, ilmu, dan hikmah Allah yang mengharuskan untuk beriman kepada Allah, ayat-ayat, Rasul, dan perjumpaan dengan-Nya.
Kedua, sebuah hasil karya (ciptaan) menjadi dalil adanya yang menciptakannya. Sangat mengherankan kekafiran orang kafir terhadap Rabbnya, padahal Dia-lah yang telah menciptakan dan memberinya rezeki, mencukupi kehidupannya, dan memeliharanya sampai batas waktu yang telah ditentukan (tiba ajal kematiannya).[1]
Sedangkan menurut Ibrahim Ali As-Sayyid Ali Isa, “Surah ‘Abasa ini mengandung pelajaran diantaranya adalah bahwa dalam melakukan aktivitas dakwah- hendaknya memberikan penghargaan yang sama kepada orang-orang yang diberi peringatan dengan tidak memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat.”[2]


[1] Ibid., hal. 811-812
[2] Ibrahim Ali As-Sayyid Ali Isa, Fadhai’il Suwar al-Qur’an al-Karim, terj. Abdul Hamid, (Jakarta: Sahara Intisains, Cet. I, 2010), hal. 383
Reactions:

Post a Comment

 
Top