Sumber Gambar: thayyiba.com

BAB III
BIOGRAFI SINGKAT IBNU SINA
DAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN PSIKOLOGINYA

A.      Riwayat Hidup dan Perjalanan Pemikirannya
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali Sina. Dia dilahirkan di desa Afsyanah dekat Bukhara pada tahun 370 Hijriah/980 Masehi. Ayahnya berasal dari kota Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa raja Nuh Ibn Manshur dan diangkat oleh raja sebagai penguasa di Kharmaitsan, satu wilayah dari kota Bukhara. Di kota ini, ayahnya menikahi Sattarah dan mendapat tiga orang anak, Ali, Husein (Ibn Sina), dan Muhamammad.
Di kota Bukhara ini, Ibnu Sina belajar al-Qur’an dan sastra saat usianya sekitar sepuluh tahun. Dia juga belajar dan berguru ilmu fiqih pada ahli zuhud yang bernama Ismail, serta belajar ilmu mantiq dan teknik kepada Abdullah Natalie. Setelah ditinggal wafat Abdullah Natalie, maka Ibnu Sina mengkaji dan mencari ilmu sendiri. Dia selanjutnya mempelajari ilmu fisika dan ketuhanan, sehingga namanya menjadi popular lantaran kepiawaiannya pada bidang tersebut.
Pendeknya, Ibnu Sina sangat senang mencari ilmu, menelaah dan mengkaji ilmu pengetahuan. Hal itu tampak jelas dari ucapannya sendiri saat mendapati kesulitan dalam memahami buku metafisika Aristoteles, sampai-sampai dia membacanya sebanyak empat puluh kali.
Dalam sejarah pemikiran filsafat Abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370-428 H/ 980-1037), dalam banyak hal yang unik sedang di antara para filosof Muslim dia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh perhargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Dia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun system filsafat yang lengkap dan terperinci- suatu system yang telah mendominasi tradisi filsafat Muslim selama beberapa abad, meskipun ada serangan-serangan dari al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi dan sebagainya. Pengaruh ini terwujud, bukan hanya karena ia memiliki system, tetapi karena system yang ia miliki itu menampakkan keaslian, yang menujukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam system keagamaan Islam. Sebagai catatan di awal pembahasan ini, dapatlah dikemukakan bahwa keaslian yang menyebabkan dirinya disebut unik tidak hanya terjadi di dalam Islam, tetapi juga terjadi di Abad Pertengahan, karena disana terjadi pula perumusan kembali teologi Katolik Roma yang dilakukan oleh Albert Yang Agung, dan terutama oleh Thomas Aquinas yang secara mendasar terpengaruh oleh Ibnu Sina.[1]


[1] M.M. Syarif,   Para Filosof Muslim, Alih Basaha, Ilyas Hasan  (Bandung: Mizan, 1996), cet ke-8, p. 102
Reactions:

Post a Comment

 
Top