Sumber Gambar: www.pinterest.com

A.      Daya Inderawi
Daya inderawi menjalankan fungsi penginderaan dan persepsi sensorik. Ibnu Sina mendefenisikan persepsi seperti kebanyakan filosof Muslim yang terpengaruh ide-ide dari Aristoteles. Menurut Ibnu Sina, persepsi adalah penerimaan perseptor atas gambaran perseptual, dan ia mendefenisikan pengindaraan sebagai proses penerimaan daya sensorik terhadap gambaran inderawi. Oleh karena itu, daya sensorik seperti objek inderawi potensial. Hanya saja, jika daya sensorik terpengaruh olehnya, maka ia berubah dari potensi menjadi aksi dan menjadi mirip dengannya secara aktual.
Indera tidak hanya sebagai alat persepsi, tetapi juga sebagai alat kehidupan. Sebagian indera bersifat primer dan lazim dalam mempertahankan kehidupan; dan sebagian lagi sebagai kesempurnaan yang mungkin tidak dibutuhkan hewan dalam hidupnya, tetapi ia memerlukannya dalam memperoleh kesempurnaan.
Menurut Ibnu Sina, ketika hikmah Ilahiah meniscayakan setiap hewan yang bergerak dengan keinginan tersusun dari empat unsur dan merasa tidak aman dari bahaya ruang ketika bergerak, maka ia didukung dengan daya sentuh, sehingga ia dapat melarikan diri dari tempat yang tidak memerlukan makan, maka makanannya ia peroleh dengan suatu keinginan. Ada makanan yang sesuai dan ada pula yang tidak sesuai dengan dirinya, itu sebabnya ia didukung dengan perasa.
Kedua daya ini sangat penting dan bermanfaat dalam kehidupan, sedangkan yang lain tidak terlalu penting. Daya lain setelah daya perasa yang dapat memastikan kebutuhannya adalah daya penciuman, sebab bau-bauan dapat menunjukkan secara kuat pada hewan makanan yang sesuai bagi dirinya. Hewan harus mendapatkan makanan, dan makanan tidak akan pernah ia peroleh, kecuali dengan berusaha. Oleh karena itu, Tuhan kemudian menciptakan daya penciuman pada sebagian besar hewan.  
Daya berikutnya setelah daya penciuman adalah penglihatan. Manfaatnya adalah bahwa ketika hewan yang bergerak atas dasar keinginan ke berbagai tempat seperti tempat api, puncak gunung, dan permukaan laut dapat menimbulkan bahaya bagi dirinya, maka Tuhan menciptakan daya pandang pada sebagian besar hewan. Daya lain yang mendukung manfaat daya pandang adalah daya mengengar. Manfaatnya adalah bahwa segala sesuatu, baik yang berbahaya maupun yang bermanfaat dapat dikenal melalui suaranya yang khas. Itu sebabnya, Tuhan menciptakan daya mendengar pada sebagian besar hewan. Manfaat daya ini bagi hewan yang rasional melampaui hewan-hewan lain. Pendapat Ibnu Sina tentang manfaat indera di atasi mirip dengan pendapat Aristoteles.

1.        Indera Lahir
Menurut Ibnu Sina, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, penginderaan ada dua macam, yaitu penginderaan lahir dan penginderaan batin. Penginderaan lahir berlangsung melalui panca indera lahir yaitu:

a.    Penglihatan
Dalam beberapa buku semisal an-Najah, Ahwal an-Nafs an-Nathiqah, dan Mabhats ‘an al-Quwa an-Nafsaniyah, Ibnu Sina mengatakan, “Sesungguhnya mata merupakan suatu daya yang sistematis di dalam syaraf bagian dalam yang mempersepsi gambar-gambar yang dapat dilihat dan memiliki warna yang memantul di dalam kornea yang terdapat di bola mata. Dalam hal ini, Ibnu Sina dipengaruhi oleh pendapat Aristoteles.
Dari defenisi tentang indera mata ini, dapat dipahami bahwa pusat penglihatan terdapat di dalam kornea yang terdapat di bola mata. Dan ini bukanlah pendapat Ibnu Sina yang sebenarnya, sebab di dalam buku as-Syifa dia mengatakan, “Sesungguhnya objek pandangan memantul pertama kali di dalam kornea, Cuma penglihatan sebenarnya tidak berlangsung di kornea. Pantulan dua objek gambar yang saling bertaut di kedua kornea yang terdapat di bola mata dengan perantara spirit yang terdapat di kedua syaraf mata sampai pada titik temu keduanya itulah yang memantulkan satu gambar pada bagian yang mengandung daya penglihatan.
Jadi, pusat penglihatan dalam pandangan Ibnu Sina sebagaimana yang terdapat di dalam buku asy-Syifa adalah titik pertemuan dua syaraf mata. Pendapat ini tidak sesuai dengan pendapat ilmu kodekteran modern yang meletakkan pusat penglihatan di bagian belakang otak.

b.    Pendengaran
Ibnu Sina berpendapat bahwa indera pendengaran adalah daya yang tersusun di dalam syaraf yang terdistribusi di permukaan gendang telinga yang ada dalam telinga. Jika dua benda berbenturan, maka tekanan yang bersumber dari benturan keduanya menimbulkan gelombang udara yang sampai ke udara yang terdapat bagian dalam gendang telinga dan menggerakkannya dengan gerakan yang sama. Gerakan tersebut lalu sampai ke syaraf yang ada di permukaan gendang telinga sehingga terjadi proses pendengaran.
Pendapat Ibnu Sina tentang pusat indera pendengaran tadi tidak sama dengan fakta ilmiah di bidang ilmu kedokteran dan fisiologi modern yang menjelaskan bahwa pengaruh gelombang udara sampai kebagian kornea yang ada di bagian ujung telinga dalam. Kemudian terjadi perubahan kimiawi yang mempengaruhi ujung syaraf pendengaran yang terbesar di sekitarnya, sehingga getaran syaraf berpindah melalui syaraf-syaraf pendengaran ke otak yang kemudian menimbulkan pendengaran.

c. Penciuman
Indera penciuman adalah daya yang tersusun pada dua tonjolan bagian depan otak yang mirip puting payudara yang terdapat di bagian atas lubang hidung. Indera penciuman memperspesi bau yang bersumber dari fisik dan dibawa oleh udara yang dihirup. Menurut Ibnu Sina, pusat penciuman adalah bagian atas lubang hidung dan bukan di otak, sebagaimana yang menjadi ketetepan saat ini di bidang fisiologi modern.
Dalam buku an-Najah, Ahwal an-Nafs an-Nathiqah, dan asy-Syifa, Ibnu Sina agaknya ragu-ragu di antara dua pendapat dalam menjelaskan proses terjadinya penciuman. Pendapat pertama adalah bahwa penciuman terjadi akibat menyebarnya bau dari satu benda tertentu dan bercampur dengan udara yang dihirup. Sedangkan pendapat kedua adalah bahwa bau benda menyebar di udara atau, dengan kata lain, udara berubah menjadi bau benda. Tetapi dalam buku Mabhats ‘an al-Quwa an-Nafsaniyah, dia hanya menyebutkan pendapat kedua saja. Pendapat pertama yang kami tunjukkan tadi adalah pendapat yang sama dengan pendapat para ahli di bidang fisiologi dan psikologi.

d.        Pengecapan
Ibnu Sina menyebutkan tentang indera pengecap dalam beberapa bukunya. Menurutnya, pengecap adalah daya yang tersusun di sayaraf dan tersebar di ujung lidah. Pengecap mempersepsi rasa yang masuk dari berbagai makanan yang bercampur dengan kelembaban ludah yang ada di dalamnya, lalu mengubahnya. Ibnu Sina dalam bukunya al-Qanun fi ath-Thib menyebutkan, “Sesungguhnya alat indera pengecap yang ada di dalam buku ini merupakan defenisi yang sama dengan yang diajukan oleh bidang fisiologi dan psikologi modern. Ibnu Sina dianggap orang yang paling dekat dengan ilmu modern dalam bidang ini dibanding ilmuwan-ilmuwan kuno lain pada umumnya.
Dalam buku asy-Syifa, Ibnu Sina menjelaskan peran ludah pada pengecapan. Ibnu Sina mempertanyakan, apakah ludah berperan sebagai perantara? –yaitu, melalui proses bercampurnya ludah dengan bagian-bagian yang memiliki rasa sehingga rasa itu sampai ke syaraf indera pengecap, lalu indera pengecap menginderanya- atau apakah ludah berubah menjadi rasa tanpa terjadi proses percampuran? Ibnu Sina ragu-ragu dengan dua pendapat ini. Itu sebabnya, dia menganut keduanya secara bersama-sama.
Ibnu Sina berkata, “Sesungguhnya ludah melakukan penyesuaian dan bercampur secara bersamaan. Tetapi dalam buku-bukunya yang lain, seperti an-Najah, Ahwal an-Nafs an-Nathiqah, dan Mabhats ‘an al-Quwa an-Nafsaniyah, Ibnu Sina berpendapat bahwa pengecapan terjadi karena proses perubahan ludah menjadi rasa.
e.         Perabaan
Menurut Ibnu Sina, indera peraba merupakan daya yang terbesar di seluruh kulit badan, daging, dan syaraf-syaraf yang tersebar di keduanya. Indera peraba menangkap sesuatu yang dapat disentuh. Ibnu Sina berbeda pendapat dengan Aristoteles yang berpendapat bahwa sesungguhnya alat indera peraba adalah hati, sedangkan daging merupakan perantara perabaan sebagaimana udara yang menjadi perantara bagi penglihatan.
Dari hal itu, terlihat kekurangan pengetahuan Ibnu Sina tentang organ-organ syaraf dan kekurangan alat bantu dalam melakukan pengamatan, sehingga dia tidak dapat membedakan antara kulit badan, daging dan syaraf. Ibnu Sina berkata, “Sesungguhnya semuanya merupakan alat indera peraba.” Sementara yang popular saat ini, alat indera peraba merupakan ujung syaraf yang tersebar di kulit badan.
Pada saat membicarakan tentang alat peraba, Ibnu Sina menunjukkan suatu fakta ilmiah yang belum terungkap kecuali pada masa modern, yaitu ketika dia mengatakan, “Daya ini bukan merupakan satu macam, tetapi empat jenis daya yang tersebar di seluruh kulit.
Dengan demikian, dia menunjukkan- sebagaimana Aristoteles sebelumnya- tentang kemungkinan adanya beberapa indera peraba, dan bukan satu peraba, yang masing-masing memiliki perabaan tertentu, yaitu panas, dingin, lembab, kering, keras, lembut, kasar dan licin. Penelitian-penelitian di bidang fisiologi modern menetapkan adanya beberapa alat indera di kulit yang masing-masing berkaitan dengan penginderaan tertentu. Penginderaan kulit ini adalah tekanan, panas, dingin, dan rasa sakit.
Ibnu Sina berpendapat tentang adanya satu macam penginderaan yang terjadi pada bagian-bagian dalam dari tubuh, yang sebenarnya  merupakan semacam perebaan. Penginderaan ini membuat kita merasakan berbagai penyakit yang melanda bagian-bagian tubuh yang tidak memiliki indera, semisal jantung, hati dan limpa melalui selaput syaraf yang melingkupinya. Penelitian-penelitian di bidang fisiologi modern menyimpulkan adanya rabaan internal yang terjadi di bagian-bagian dalam tubuh, sebagaimana pendapat Ibnu Sina sebelumnya.

2.    Indera Internal
Sesungguhnya alat-alat indera eksternal yang pernah kita bicarakan sebelumnya mempersepsi stimulus inderawi tertentu, seperti warna, suara, rasa, bau, atau kualitas indera rabaan. Selanjutnya stimulus inderawi ini mengalir ke indera internal, yaitu indera kolektif di mana stimulus-stimulus inderawi ini berkumpul dalam proses persepsi sensorik yang sempurna terhadap obyek inderawi. Jika stimulus inderawi hilang, maka gambarnya bertahan di indera batin yang lain, yaitu daya konsepsi yang dapat me-recall dan mengingatnya kembali.
Ada satu indera internal lain, yaitu daya fantasi yang merespon obyek-obyek inderawi yang tersimpan di dalam daya konsepsi, sehingga menyatu satu sama lain atau terpisah satu sama lain dalam proses fantasi, mimpi dan kreasi. Ada juga indera internal lainnya, yaitu waham atau daya waham yang mempersepsi berbagai makna non-inderawi dari berbagai stimulus inderawi eksternal, semisal persepsi waham tadi tersimpan di dalam indera internal lain yang disebut memori.
Selain itu, di antara indera internal ada yang menangkap stimulus indewasi, ada yang menangkap berbagai makna dari stimulus inderawi, ada yang menangkap berbagai makna dari stimulus inderawi, ada yang mempersepsi dan bereaksi secara bersamaan, dan ada yang mempersepsi tetapi tidak bereaksi. Perbedaan antara persepsi stimulus fisik dan stimulus makna adalah bahwa stimulus fisik dipersepsi oleh indera lahir dan batin secara bersama-sama, tetapi indera lahir mempersepsinya terlebih dahulu baru kemudian dikirim ke indera batin. Misalnya, kambing mempersepsi gambar serigala dengan alat indera lahirnya atau mempersepsi bentuknya, warnanya, dan suaranya, kemudian mengirim gambar tersebut ke indera kolektif, dimana sensorik inderawi terjadi dengan sempurna. Sedangkan makna dipersepsi oleh indera batin dari stimulus inderawi tanpa dipersepsi terlebih dahulu oleh indera lahir, seperti daya waham pada kambing yang mempersepsi makna permusuhan pada serigala.
Berkaitan dengan perbedaan antara persepsi yang disertai aksi dan persepsi tanpa disertai akis, maka yang pertama (penyebab yang disertai aksi) terlihat jelas dari fungsi daya fantasi. Sebab, daya fantasi menggabungkan gambar-gambar dari stimulus inderawi dan berbagai makna satu sama lain serta memisahkan satu sama lain, sehingga dengan demikian terjadi suatu persepsi dan aksi terhadap sesuatu yang dipersepsi. Sedangkan persepsi tanpa aksi adalah jika gambar atau makna saja yang tergambar di dalam daya indera batin tanpa terjadi padakeduanya aksi atau tindakan. Oleh karena itu, daya konsepsi menyimpan gambar-gambar inderawi dan memori menyimpan makna-makna yang bersumber dari stimulus inderawi. Keduanya tidak memiliki aksi apapun terhadap apa yang disimpannya.
Ibnu Sina berkata, “Sesungguhnya wujud indera batin merupakan sesuatu yang penting bagi kesempurnaan hidup dan kesempurnaan pangetahuan. Maka, pengetahuan yang diberikan indera lahir kepada kita tidak cukup bagi daya indera dalam memberikan kebutuhan materi yang lazim untuk melaksanakan fungsi persepsi. Hal itu karena setiap indera mempersepsi stimulus inderawi yang tertentu saja dan tidak dapat membedakan antara stimulusnya dengan stimulus inderawi lainnya.
Agar pengetahuan terjadi dan tujuan tercapai, yaitu perolehan kesempurnaan, maka penting untuk mengumpulkan berbagai stimulus inderawi pada satu daya yang dapat berhukum atasnya dan membedakannya. Ibnu Sina memandang bahwa hal itu bukan hanya sesuatu yang primer untuk memperoleh pengetahuan, tetapi penting juga untuk keberlangsungan hidup. Jika hewan tidak dapat mempersepsi sesuatu sebagai sesuatu yang manis, maka ia tidak mungkin memakannya ketika melihatnya. Sebaliknya, jika hewan tidak tahu bahwa sesuatu itu menyakitkan, maka ia tidak akan pernah menjauhinya ketik melihatnya. Ibnu Sina berkata, “Seandainya pada diri hewan tidak ada sesuautu yang menjadi tempat berkumpulnya berbagai gambaran inderawi, maka ia tidak akan bisa melewati kehidupan dan penciuman tidak akan pernah menjadi peringatan terhadap bentuk penderitaan, sehingga ia dapat melarikan diri darinya. Oleh karena tiu, gambaran-gambaran itu pasti memiliki satu tempat berkumpul dari batin.
Daya itu adalah daya koleksif, dan ia menjadi pusat segala indera. Semua stimulus inderawi berkumpul di dalamnya. Selanjutnya, Ibnu Sina mengatakan, “Maka yang penting bagi kesempurnaan hidup dan kesempurnaan pengetahuan adalah persepsi semua gambaran inderawi di kedalaman stimulus inderawi itu sendiri. Sebab, hewan tidak cukup untuk melihat sesuatu yang bermanfaat, lalu mengejarnya. Dan penting juga ia mengkonsepsinya pada saat tidak ada stimulus agar ia berusaha memperolehnya. Jika tidak, maka sesungguhnya hewan itu enggan untuk bergerak pada saat tidak ada stimulus inderawi. Jadi, ada suatu daya yang menyimpan berbagai gambaran inderawi ketika sedang tidak ada, yaitu fantasi atau konsepsi.
Agaknya, proses mengingat, berfantasi, bermimpi, dan mempsepsi semua makna parsial yang bersumber dari persepsi stimulus inderawi eksternal menurut Ibnu Sina- sebagaimana menurut al-Farabi dan filosof Muslim pada umumnya- merupakan proses-proses yang termasuk dalam bagian persepsi inderawi. Semua itu bukanlah proses rasional, sebagaimana digambarkan para psikolog modern. Hal itu disebabkan karena Ibnu Sina dan filosof Muslim pada umumnya menganggap semua proses sensorik yang mencakup stimulus inderawi eksternal adalah proses yang bersifat inderawi. Proses itu terjadi pada hewan dan manusia, sedangkan akal berfungsi mempersepsi stimulus-stimulus rasional yang bersifat universal-abstrak. Proses itu hanya ada pada manusia saja tanpa pada makhluk yang lain. Jelas sekali, Ibnu Sina dan filosof Muslim pada umumnya terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles tentang topik ini.
Reactions:

Post a Comment

 
Top