Sumber Gambar: www.jurnalislam.com

BAB I
PENDAHULUAN
Saat ini, masyarakat modern menggunakan berbagai teknologi tinggi sebagai fasilitas hidupnya, tetapi dalam menempuh kehidupan, terjadi distorsi-distorsi nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental, dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera atau hutan peradaban modern. Mobilnya sudah memakai Mercy, tetapi mentalnya masih becak, alat komunikasinya masih memakai bahasa isyarat tangan, menu makan yang dipilihnya pizza dan ayam kentucky, tetapi wawasan gizinya masih kelas oncom. Kekayaan, jabatan dan senjata yang dimilikinya melambangkan kemajuan, tetapi jiwanya kosong dan rapuh.[1]
Gambaran kehidupan masyarakat modern di atas, ternyata membuat manusia kehilangan kesahduan hidup, seni menghormati hidup, dan krisis identitas. Justru kerinduan akan ketentraman batin dan dambaan akan kebahagiaan jiwa semakin menggelembung. Etos kemakmuran jasmani ternyata secara efektif menyuburkan kegersangan dan kehausan rohaniah.  Oleh  karena itulah manusia mulai tertarik untuk mengetahui siapa dirinya terutama ketika berada dalam puncak-puncak kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kegagalan dan keberhasilan. Tetapi dalam batas-batas tertentu, meskipun manusia itu makhluk yang memiliki dimensi jiwa dan raga, tetapi pertanyaan yang berkepanjangan adalah di seputar jiwanya, diseputar rohaninya, dan sebagaimana yang diakui banyak ahli, meskipun sudah dicarikan jawabnya dalam lintas psikologi, sufisme, dan juga filsafat, tetapi tentang manusia belum mencapai kemajuan berarti, seperti yang telah dicapai oleh pengetahuan lainnya. Pertanyaan tentang manusia pada hakikatnya- seperti yang dikatakan oleh Alexis Careel- hingga kini masih tetap tanpa jawaban.[2]
Para ilmuwan Muslim terdahulu sesungguhnya memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan kajian tentang kejiwaan. Ironisnya, peranan mereka dalam memajukan dan mengembangkan ilmu kejiwaan (psikologi) tersebut tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya dari para pakar sejarah psikologi modern sepanjang sejarah. Umumnya, mereka yang berasal dari Barat memulai kajian psikologi pada kaum pemikir Yunani, terutama Plato dan Aristoteles. Selanjutnya, mereka langsung membahas pemikiran kejiwaan para pemikir Eropa Abad Pertengahan dan masa Kebangkitan (Renaisans) Eropa Modern. Mereka benar-benar melupakan andil para ilmuwan Muslim yang diantaranya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan banyak mempengaruhi pendapat para pemikir Eropa Abad Pertengahan hingga awal masa Renaisans Eropa Modern sendiri.[3]
Yang lebih menyedihkan lagi, sikap para sejarawan psikologi dari Barat tersebut justru diikuti oleh para pakar psikologi Arab kontemporer. Mereka yang mempelajari berbagai manuskrip sejarah psikologi di banyak universitas sama sekali tidak melirik peranan para ilmuwan Muslim. Penghargaan terhadap andil mereka justru datang para sejarawan filsafat Islam, baik yang berasal dari bangsa Arab sendiri maupun non-Arab. Mereka menginformasikan kepada kita sejumlah ikhtisar yang bermanfaat tentang pandangan para ilmuwan Muslim terdahulu dalam bidang psikologi. Kendati nilainya sangat penting, namun ikhtisar tersebut tidak cukup menarik para psikolog Islam kontemporer untuk mendalami pandangan kejiwaan ilmuwan Muslim terdahulu, yang memungkinkan mereka memberikan penilaian ilmiah terhadap andil mereka dalam memajukan dan mengembangkan psikologi sepanjang sejarah.[4]
Salah satu filosof Islam yang mempunyai perhatian yang luar biasa terhadap konsep-konsep jiwa dan bagaimana mengatasi problem kejiwaan adalah Ibn Sina. Dengan ketajaman pikiran dan ketelitian pengamatannya, dapat mencapai pengetahuan tentang hukum proses conditioning sebelum hal itu ditemukan oleh Ivan Pavlov, seorang psikolog berkebangsaan Rusia. Ibnu Sina juga dapat memberikan interpretasi ilmiah tentang lupa, dengan mengembalikannya kepada intervensi berbagai informasi yang belum pernah dicapai para psikologi modern, kecuali pada perempat pertama abad ke-20. Selain itu, Ibnu Sina juga mendahului para  ahli fisiologi dan psikolog modern dalam mengukur emosi berdasarkan pengukuran berbagai perubahan fisiologi dan psikolog modern dalam mengukur emosi berdasarkan pengukuran berbagai perubahan fisiologis yang terjadi setelah terjadinya proses emosi.[5] Penemuan-penemuan Ibnu Sina dalam bidang psikologi menunjukkan, kesungguhan  Ibnu Sina dalam menelaah dan mempelajari psikologi.


BAB II
Tinjauan Umum tentang Psikologi
A.      Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu psyche dan logos. Mengenai kata logos, kiranya sudah banyak orang tahu bahwa artinya adalah nalar, logika, atau ilmu. Karena itu psikologi berarti psyche. Tetapi apakah psyche itu? Nah, di sinilah terdapat perbedaan yang berlarut-larut itu.
Kalau kita periksa oxford dictionary misalnya, kita akan melihat bahwa istilah psyche mempunyai banyak arti dalam bahasa inggris yaitu soul, mind, dan spirit. Dalam bahasa Indonesia ketiga kata-kata bahasa Inggris itu dapat dicakup dalam satu kata yaitu “jiwa”. Karena itulah dalam bahasa Indonesia kebanyakan orang cenderung mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa. Tetapi kecendrungan ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia saja. Kalau kita periksa dalam bahasa Belanda misalnya, maka psikologi diartikan sebagai zielkunde, dalam bahasa Jerman seelenkunde, dalam bahasa Arab ilmun-nafsi, yang semuanya itu tak lain artinya daripada ilmu jiwa.[6]  
Kata jiwa ditilik dari akar kata bahasa Arab, yaitu kata al-nafs. Al-nafs (nun-fa-sin) menunjukkan arti keluarnya angin lembut bagaimana pun adanya. Al-nafs juga diartikan darah, atau hati (qalb) dan sanubari (damir), padanya ada rahasia yang tersembunyi. Juga berarti ruh, saudara, ‘indahu (kepemilikan). Dalam al-mu’jam al-falsafy, kata al-nafs diartikan dengan merujuk kepada tiga versi pendapat; Aristoteles, dengan permulaan kehidupan (vegetative), Kelompok Spiritual (al-ruh iyyun) mengartikannya sebagai jauhar (substansi) ruh, dan yang lainnya mengartikan sebagai jauhar (substansi) berfikir.
Dalam filsafat, pengertian jiwa diklasifikasi dengan bermacam-macam teori antara lain:
1.    Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan substansi yang berjenias khusus, yang dilawankan dengan substansi materi, sehingga manusia dipandang memiliki jiwa dan raga.
2.    Teori yang memandang bahwa jiwa itu merupakan suatu jenis kemampuan, yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan-kegiatan.
3.    Teori yang memandang jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tampak pada organisme-organisme hidup.
4.    Teori yang menyamakan pengertian jiwa dendang pengertian tingkah laku.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwasanya jiwa kadangkala diartikan sebagai sesuatu yang berbentuk fisik yang materil melekat pada diri manusia, tampak dan tidak tersembunyi, tetapi pada waktu lain ia mengandung arti sebagai sesuatu yang berbentuk non-materil, yang mengalir pada diri fisik manusia sebagai jauhar (substansi), substansi ruh ataupun substansi berfikir.
Dalam psikologi, jiwa lebih dihubungkan dengan tingkah laku sehingga yang diselidiki oleh psikologi adalah perbuatan-perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa. Teori-teori psikologi, baik psikoanalisa, behaviorisme maupun humanisme memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada dibelakang tingkah laku
Para filosof Yunani termasuk Aristoteles tampaknya memahami jiwa sebagai sesuatu yang sulit digambarkan secara materiil, sebagai sesuatu yang membutuhkan ruang dan tempat. Ia bersifat gradual dan tercecer ke mana-mana yang tidak punya ukuran sama sekali. Tetapi ia ada pada setiap makhluk yang punya roh, dan memiliki fungsi dalam gerak makhluk. Sesuatu yang tidak memiliki fisik tetapi punya fungsi.
Di kalangan ahli sufi, nafs diartikan sesuatu yang melahirkan sifat tercela. Al-Ghazali, misalnya menyebut nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia dan sebagai pangkal dari segala sifat tercela. Pengertian ini antara lain dipahami dari hadits, musuhmu yang paling berat adalah nafsumu.
Sedangkan menurut al-Qusyairi, ruh, jiwa, dan badan adalah satu komponen (jumlah) yang membentuk manusia, yang sebagiannya tunduk kepada sebagian yang lain. Di kalangan ulama ahlu sunnah, terkadang mereka sepakat tentang jiwa dan ruh dalam satu aspek, tetapi ia berbeda pada aspek yang lain. al-Qusyairy mencontohkan, Ibnu Abbas dan Ibnu Habib keduanya sepakat bahwa ruh adalah kehidupan atau sumber kehidupan. Keduanya juga sepakat bahwa jiwalah yang diwafatkan saat manusia sedang tidur.
Tetapi menurut Ibnu Habib jiwa adalah syahwatiah (kesyahwatan) yang merasakan kelezatan dan merasakan sakit, Sedangkan Ibnu Abbas menganggapnya sebagai akal yang mengetahui, membedakan dan memerintah. Pendapat keduanya tentang jiwa yang diwafatkan saat manusia tidur ditentang oleh sebagai muhaqqiq ahlu sunnah yang berpendapat bahwa rohlah yang berpisah dan terangkat saat manusia sedang tidur dan bukan jiwa.
BAB III
BIOGRAFI SINGKAT IBNU SINA
DAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN PSIKOLOGINYA

A.      Riwayat Hidup dan Perjalanan Pemikirannya
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali Sina. Dia dilahirkan di desa Afsyanah dekat Bukhara pada tahun 370 Hijriah/980 Masehi. Ayahnya berasal dari kota Balakh kemudian pindah ke Bukhara pada masa raja Nuh Ibn Manshur dan diangkat oleh raja sebagai penguasa di Kharmaitsan, satu wilayah dari kota Bukhara. Di kota ini, ayahnya menikahi Sattarah dan mendapat tiga orang anak, Ali, Husein (Ibn Sina), dan Muhamammad.
Di kota Bukhara ini, Ibnu Sina belajar al-Qur’an dan sastra saat usianya sekitar sepuluh tahun. Dia juga belajar dan berguru ilmu fiqih pada ahli zuhud yang bernama Ismail, serta belajar ilmu mantiq dan teknik kepada Abdullah Natalie. Setelah ditinggal wafat Abdullah Natalie, maka Ibnu Sina mengkaji dan mencari ilmu sendiri. Dia selanjutnya mempelajari ilmu fisika dan ketuhanan, sehingga namanya menjadi popular lantaran kepiawaiannya pada bidang tersebut.
Pendeknya, Ibnu Sina sangat senang mencari ilmu, menelaah dan mengkaji ilmu pengetahuan. Hal itu tampak jelas dari ucapannya sendiri saat mendapati kesulitan dalam memahami buku metafisika Aristoteles, sampai-sampai dia membacanya sebanyak empat puluh kali.
Dalam sejarah pemikiran filsafat Abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370-428 H/ 980-1037), dalam banyak hal yang unik sedang di antara para filosof Muslim dia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh perhargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Dia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun system filsafat yang lengkap dan terperinci- suatu system yang telah mendominasi tradisi filsafat Muslim selama beberapa abad, meskipun ada serangan-serangan dari al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi dan sebagainya. Pengaruh ini terwujud, bukan hanya karena ia memiliki system, tetapi karena system yang ia miliki itu menampakkan keaslian, yang menujukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam system keagamaan Islam. Sebagai catatan di awal pembahasan ini, dapatlah dikemukakan bahwa keaslian yang menyebabkan dirinya disebut unik tidak hanya terjadi di dalam Islam, tetapi juga terjadi di Abad Pertengahan, karena disana terjadi pula perumusan kembali teologi Katolik Roma yang dilakukan oleh Albert Yang Agung, dan terutama oleh Thomas Aquinas yang secara mendasar terpengaruh oleh Ibnu Sina.[7]
 AKarakteristik Pemikiran Ibnu Sina


Katakteristik paling dasar dari pemikiran Ibnu Sina adalah pencapaian defenisi dengan metode pemisahan dan pembedaan konsep-konsep secata tegas dan keras. Hal ini memberikan kehalusan yang luar biasa terhadap pemikiran-pemikrannya. Tatanan itu sering memberikan kompleksitas skolastik yang kuat dan susunan yang sulit dalam penalaran filsafatnya, sehingga mengusik temperamen modern, tetapi dapat dipastikan, bahwa tatacara ini jugalah yang diperoleh dalam hampir seluruh doktrin asli para filosof Islam. Tata cara ini memungkinkannya untuk merumuskan bahwa pada setiap konsep yang jelas dan berbeda, harus terdapat kesesuaian distinction in re, suatu prinsip yang pada akhirnya Descartes juga menggunakannya sebagai dasar bagi tesisnya tentang dualisme akal-tubuh. Keberhasilan dan pentingnya prinsip analisis ini di dalam system Ibnu Sina, sangat menarik perhatian; ia mengemukakan secara berulang-ulang dan pada setiap kesempatan, dalam pembuktian-pembuktiannya tentang dualisme tubuh dan akal, doktrin universal, teorinya tentang esensi dan eksistensi dan sebagainya. Beberapa contoh prinsip ini adalah “bahwa apa yang disahkan dan diizinkan, dan “suatu konsep tunggal secara keseluruhan tak dapat diketahui dan tidak diketahui secara bersamaan, kecuali terhadap aspek-aspek yang berbeda.[1]


[1] Lihat, Achmad Mubarak, Manusia Modern Mendamba Allah: Renungan Tasawuf Positif, (Jakarta: Hikmah, 2002), cet ke-1, p. 168
[2] Achmad Mubarok, Jiwa dalam al-Qur’an:Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern,(Jakarta: Paramadina, 2000), cet ke-1, h. x
[3]Muhammad Utsman Najati, Jiwa dalam Pandangan Filosof Muslim, Alih bahasa, Gazi Saloom, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 15
[4] Ibid, p. 16
[5] Ibid, p. 17
[6] Sarlito W. Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2000), p. 4
[7] M.M. Syarif,   Para Filosof Muslim, Alih Basaha, Ilyas Hasan  (Bandung: Mizan, 1996), cet ke-8, p. 102
Reactions:

Post a Comment

 
Top