Kita tidak bisa menyalahkan agama atas kesalahan yang dilakukan pemeluknya yang menggunakan nama atau simbol agama untuk melakukan tindakan yang mengerikan. Semua agama memiliki orang-orang yang mengatakan bahwa mereka adalah pengikut setia tradisi agama mereka, namun sebenarnya mereka telah jauh menyalah artikan naskah-naskah suci mereka untuk memenuhi tujuan mereka sendiri.
Harun Yahya

Teror, teroris atau terorisme adalah rangkaian kata yang saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan, tak terkecuali bagi pemerintah Indonesia. Aktivitasnya tidak hanya terkait dengan perlawanan suatu kelompok terhadap negara untuk memperjuangkan kepentingan politik dan ideologi tertentu, tetapi berkembang jauh yang tidak hanya bersinggungan dengan ranah politik, tetapi telah menjangkau kedalam ranah yang lebih luas yaitu ekonomi, sosial budaya maupun agama.
Oleh sebab itu, terorisme telah menjadi ancaman yang sangat serius dan nyata bagi kelangsungan keamanan dunia dewasa ini khususnya setelah berakhirnya perang dingin. Terorisme telah muncul menjadi ancaman yang sangat menakutkan. Bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di Solo adalah sebagai kelanjutan dari upaya teror yang pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum dibahas lebih lanjut tentang tulisan ini ada baiknya perlu diketahui terlebih dahulu apa itu terrorisme. Teror sebagai sebuah konsep berarti intimidasi namun intimidasi dalam intensitas yang sangat besar yang dapat mengakibatkan rasa takut seseorang yang dijabarkan dengan sikap kekerasan.
Meskipun teror sering dibicarakan dan di diskusikan serta dipertanyakan akhir-akhir ini, namun belum ada defenisi yang pasti yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat tentang pengertian yang baku dari terror tersebut bahkan dalam lingkup Internasional juga belum ada konsep yang umum yang telah di buat, hal ini disebabkan karena ada sebagian orang dilain pihak yang menganggap terroris itu justru seorang pahlawan kebebasan. Teror sebagai pengertian adalah suatu tindakan mengancam dengan maksud membuat orang lain menerima pesan dan permintaannya dibawah tekanan dan intimidasi.
Salah satu ciri utama dari terroris adalah dalam pemilihan target biasanya mereka memilih sasaran yang dapat mengakibatkan dampak yang sangat besar, dan bilamana tidak ada tindakan pencegahan oleh aparat terkait maka sasaran yang dipilih akan menjadi lebih tidak berdaya. Apalagi waktu dan tempat sasaran ada ditangan teroris itu sendiri. Ciri lain dari terorisme ini adalah sifat yang merusak,tidak berbelas kasihan, dan tidak bermoral.
Tentu saja hal ini bertentangan dengan konsep agama, karena pada prinsipsinya kita akan mudah menemukan kesepakatan bahwa sejatinya tidak ada agama yang eksplisit mengajarkan warganya untuk menggunakan kekerasan. Pada tataran normatif, agama berurusan dengan yang ilahi, yang dipandang dan disembah sebagai sumber dan tujuan kehidupan manusia. Karena memiliki Tuhan sebagai sumber dan tujuan, kehidupan manusia terlindung secara hakiki.
Dalam artian bahwa, setiap agama juga harus menghargai hak hidup tiap manusia. Maka, tindak kekerasan yang menghancurkan kehidupan manusia seperti terorisme adalah bertentangan dengan sikap dasar kepada yang ilahi. Orang yang membunuh orang lain dalam aksi teror tidak berhak menyebut diri penyembah Tuhan.
Oleh karena itu, memupuk satu kehidupan bersama dalam kedamaian yang langgeng, seruan toleransi, dan kebersamaan agama-agama amat penting. Lebih dari itu, tiap agama harus mempertanggungjawabkan kepada para pemeluknya landasan teologis yang meyakinkan bagi penerimaan dan penghargaan terhadap semua orang dan kelompok lain.
Toleransi baru menemukan akarnya yang kuat apabila agama sanggup melihat manusia, apa pun agama dan orientasi politisnya, sebagai makhluk yang dilindungi Tuhan dan karena itu memiliki hak yang harus dihormati. Terorisme tidak menambah apa pun pada kemuliaan Tuhan, sebaliknya merupakan penghinaan terhadap-Nya.
Orientasi kepada kemanusiaan ini mendorong agama-agama untuk menempatkan dirinya dalam dialog yang hidup dengan setiap kondisi sosio-historis. Ketika kondisi sosio-historis menampakkan ciri plural yang semakin radikal seperti dewasa ini, klaim agama sebagai pemangku kebenaran absolut harus ditafsir secara baru.
Pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Jerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Jerusalem menjadi kota Muslim. Shalahuddin memegang janjinya dan menaklukkan kota itu dengan moralitas Islam yang tinggi. Dia tidak melakukan pembalasan atas pembantaian tahun 1099.
Tak satupun umat non muslim yang dibunuh dan tidak pula terjadi perampokan. Uang tebusan sangatlah rendah. Shalahuddin tak bisa menahan air matanya melihat permohonan keluarga yang terpecah-pecah dan ia membebaskan kebanyakan dari mereka dengan tanpa uang tebusan.
Saudara Shalahuddin, al-Adil sangatlah sedih melihat rombongan para tahanan sehingga ia meminta Shalahuddin seribu orang untuknya yang kemudian langsung ia bebaskan..


Reactions:

Post a Comment

 
Top