Al-Kisah- seorang Sultan yang jatuh cinta dengan seorang wanita budak yang notabene adalah seorang pelayan rendahan. Dengan kekuasaan dan pengaruhnya Sultan berhasil membawa wanita cantik itu ke istana. Dia menyediakan semua kemewahan dan kenikmatan untuk wanita idamannya itu.
Meskipun Sultan telah memperlakukan wanita itu bak seorang permainsuri, tetapi wanita itu terlihat tetap murung dan tampaknya sedikitpun dia tidak menikmati pemberian Sang Sultan. Alih-alih menikmati pemberian Sang Sultan, wanita cantik itu justru jatuh sakit dan terbaring lemah dalam kemurungan. Tentu saja Sultan sangat terpukul dengan peristiwa yang menimpa wanita pujaannya itu. Berbagai cara dan upaya telah ditempuh Sultan untuk menyembuhkan wanita pujaannya itu. Diantaranya dengan mengumpulkan para tabib terkemuka dan handal.
Ditengah kegalauan dan kegundahannya sang Sultan berujar lirih kepada para tabib, “Tolong kalian selamatkan nyawa wanita ini dan jangan khawatir kalian akan kuberi hadiah yang jauh melebihi harapan kalian. Hanya dengan kehadiran wanita ini disisiku aku dapat hidup bahagia. Tanpa dia hidupku tidak berarti apa-apa.  Begitulah permohonan yang diutarakan Sultan kepada para tabib yang sedang mengobati wanita pujaannya itu.
Para tabib telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengobati wanita itu, tetapi kesehatannya semakin hari semakin memburuk. Menyaksikan kesehatan wanita idamannya belum ada perubahan, Sultan yang terlanjur mabuk kepayang ini melangkah menuju masjid: “Ya Allah, Tuhan yang Maha meyembuhkan.  Engkau mengetahui persis kegundahan yang aku alami saat ini. Hanya kepadaMu tempatku terakhir untuk mengeluh dan mengadu atas penderitaan yang menimpa hamba.” Sambil menangis pilu dia menuangkan isi hatinya- sampai ketiduran dan bermimpi. Dalam mimpinya Sultan bertemu dengan seorang kakek- ia berkata kepada Sultan, “Doamu terkabul, wahai Sultan. Orang asing pertama yang mendatangimu besok pagi adalah utusanku. Kekuasaan Allah akan bekerja lewat tangannya. Dan, wanita yang kau cintai itu akan sembuh.”
Esok harinya, Sultan menunggu kedatangan si penyelamat yang dijanjikan. Dan tepat sekali, dari kejauhan dia melihat sosok seorang pria berwajah cerah. Sang Sultan bergegas keluar dari istana untuk menemuinya, “Sesungguhnya, Engkaulah yang kutunggu-tunggu selama ini. Engkaulah Kekasihku, bukan wanita itu.” Sang Sultan baru sadar bahwa selama ini ia hanya mengejar bayang-bayang. Dia memeluk Si penyelamat, mencium tangannya dan menanyakan kabar tentang kampung halaman serta perjalanannya.
Seperti kisah Sultan di atas, siang malam kita berusaha, bekerja, dan belajar hanya demi sebuah kebahagiaan. Padahal sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri. Sebagaimana kisah seekor ikan muda belia merasa resah dan gelisah mencari-cari kebahagiaan. Suatu ketika ia beranikan diri bertanya kepada ikan yang lebih tua. Anda lebih berpengalaman dari saya. Dimanakah saya dapat menemukan samudera kebahagiaan? Saya sudah mencari-carinya kemana-mana, tetapi berhasil juga. “Samudera adalah tempat engkau berenang saat ini,” Ujar ikan yang senior, “Hah? Ini kan hanya air saja! Yang kucari adalah samudera,” Sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.
Apa yang sering menimpa kita mungkin serupa dengan Sang Sultan dan kisah ikan diatas. Kita sibuk mencari-cari sumber kebahagiaan, padahal dia sangat dekat dengan kita. Kebahagiaan itu sendiri sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan diluar sana.  Untuk mencapai kebahagiaan kita hanya  perlu menyelami diri sendiri. Menelusuri dan menghayati diri dengan paradigma sendiri. Orang sering salah memposisikan diri, yakni dengan berharap kebahagiaan dari luar dirinya, dari apa yang berjarak dengan dirinya.
Cobalah kita merenung sejenak, berjalan-berjalan, atau keluar di malam hari sambil memandang indahnya bulan purnama dan bintang gemintang yang tergantung mesra dilangit. Bukankah semuanya terlihat begitu indah dan serasi. Begitulah kehidupan yang kita jalani saat ini, bila kita melihatnya dengan mengeluarkan aura positif yang bersumber dalam diri kita.  Kebahagiaan merupakan milik semua orang yang menginginkannya, kita hanya perlu merawat dan memeliharanya kemudian mengoptimalkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual- agar kita selalu meraih kehidupan yang lebih baik, bahagia, dan menyenangkan. Para pakar kebahagiaan telah mengungkapkan apa pun defenisi kebahagiaan itu, yang jelas dan pasti semua orang dapat hidup dalam bingkai kebahagiaan dan kesejahteraan. Namun terkadang kita malah mengharapkan kebahagiaan dari luar diri kita.
Salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan ini adalah mempunyai jiwa yang selalu berbahagia. Karena dalam bingkai kebahagiaan perjalanan hidup seseorang menjadi pribadi yang lebih produktif dan kreatif. Para peneliti kebahagiaan mengatakan bahwa kebahagiaan adalah seni yang perlu dipelajari. Jika kita mempelajarinya, maka kita akan mendapatkan berkah dalam hidup ini. 
Sebenarnya, prinsip dasar meraih kebahagiaan adalah dengan memiliki kemampuan dalam menahan kepedihan dan beradaptasi dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan, dan tertekan dengan hal-hal sepele. Sebab bila dilandasi dengan kejernihan hati, seseorang akan bersinar merona sekalipun di tempat yang paling gelap sekalipun. Ketika kita melatih diri untuk bersikap sabar dan berbesar hati, maka kesulitan dan malapetaka apa pun akan dengan mudah kita atasi.
Reactions:

Post a Comment

 
Top