Secara etimologi perkataan aman berasal dari bahasa Arab yang memiliki akar kata dan pengertian sama dengan iman dan amanah. Tidak terlalu sulit menemukan ketiga kata tersebut dalam al-Qur’an. Al-Qur’an menjelaskan panjang lebar diberbagai ayat relasi antara iman dan aman. Maka, sebuah keharusan adanya hubungan aman dan iman. Implikasi dari beriman, seseorang akan memiliki rasa aman dan rasa nyaman. Akan tetapi, dalam realitas belum tentu benar. Banyak orang yang menunjukkan penampilan iman, menjadi orang yang beriman, namun dalam aktivitas memperlihatkan rasa takut, rasa khawatir, bahkan gelagat ketakutan.
Maka rasa aman, sesungguhnya diperoleh dari keyakinan dan kesadaran orang yang beriman bahwa dia benar-benar bersandar (tawakkal) kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu, banyak penjelasan dalam al-Qur’an yang mejelaskan bahwa beriman dan berbuat baik tidak akan merasa takut dan tidak pula akan merasa kuatir (QS.  Al-An’am: 48). Ditambahkan dalam ayat lain bahwa “Mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian bersikap teguh, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dan berkata, ‘jangan kamu takut, dan jangan pula kamu kuatir, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu. Kami (para malaikat) adalah teman-temanmu dalam hidup di dunia dan di akherat.(QS. Fushshilat: 30).
Berdasarkan garansi Tuhan di atas, jika kita benar-benar beriman, pastinya kita dihiasi rasa aman, tanpa pernah kuatir dan takut dalam menjalani hidup yang serba susah ini. Sikap ini akan berimplikasi luas, seperti kita akan menjadi manusia penuh percaya diri (self convidence). Menurut teori psikologi, percaya diri adalah pangkal kesehatan jiwa yang akan membuat penampilan simpatik, komunikatif, toleran, dan damai, tidak gampang tersinggung dan berprasangka buruk terhadap orang lain. Orang yang memiliki rasa percaya diri akan dapat menghayati pesan ilahi “Hai orang yang beriman, jagalah dirimu sendiri. Orang yang sesat tidak akan berpengaruh kepadamu jika kamu memang mendapat petunjuk” (QS. Al-Ma’idah: 10).
Dengan demikian, logika terbaliknya adalah siapa yang tidak memiliki rasa aman, maka tidak mungkin dapat memberi atau mendesiminasikan rasa itu kepada orang lain. Memberi rasa aman kepada orang lain adalah bagian penting dari ajaran Islam. Tuhan menegaskan dirinya sebagai Sang Pemberi rasa aman yang sekaligus menuntut agar rasa aman itu disebarkan kepada orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Oleh karenanya, Nabi Muhammad SAW bersabda “yang disebut orang Islam adalah orang yang mampu menebarkan keselamatan dan rasa aman kepada orang lain” (al-muslimu man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi). 
Dalam konteks rasa aman pemerintah kota Palembang, sebaiknya dibuat program-program yang dapat mewujudkan Palembang Aman. Program-program yang dapat dibuat di antaranya. Pertama, training motivasi bagi orang tua, guru, pelajar, dan mahasiswa. Meliputi, Gerakan Preventif Bahaya Narkoba, Gerakan Preventif Bahaya Terorisme, Konseling motivasi tentang k3 ke sekolah dan perguruan tinggi, Menyemarakkan program Siskamling (sistem keamanan lingkungan). Kedua, Program Kerjasama Para Ustadz, santri, siswa, dan pihak kepolisian dalam satu gerakan Palembang Aman Religius. KetigaSeminar Nasional tentang Akselerasi Peluang Investasi di Palembang Darussalam. Tentunya, program-program tersebut dapat terealisasi apabila mendapat dukungan dan persetujuan Pemkot Palembang saat ini.

Reactions:

Post a Comment

 
Top