Sumber Gambar: chooseandbuild.wordpress.com

Seni bangun yang berjiwa Islam Indonesia amat miskin. Hampir tidak ada bangunan Islam yang menunjukkan keagungan Islam setaraf dengan bangunan bersejarah di negara Islam lain. Di samping itu, Indonesia tidak memiliki corak tersendiri seperti Ottoman style, India Style, dan Syiro Egypto style. Meskipun agama Islam sudah lebih lama di Indonesia. Dalam seni bangun Islam Indonesia, pada garis besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru.
Pada abad ke-16 agama Islam sudah tersebar luas di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Kegiatan keagamaan diadakan di masjid atau mushalla. Model masjidnya berbeda dengan bentuk masjid negara Islam lainnya. Mungkin karena berdekatan masa, bentuk masjid di Indonesia pada mulanya banyak dipengaruhi oleh bangun Indonesia-Hindu. Masjid tertua yang memperlihatkan ragam seni bangun itu, misalnya Masjid Demak, Kudus, Cirebon, Banten, dan Ampel. Di masjid-masjid itulah menurut sejarah, para wali mengajarkan agama Islam. Bentuk masjid itu menjadi model bagi masjid-masjid yang lain. Ciri-ciri model seni bangunan lama masjid-masjid yang lain. Ciri-ciri model seni bangunan lama yang merupakan peniruan dari seni bangun Hindu-Budha itu adalah sebagai berikut.
Pertama, atap tumpang yaitu atap yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil dan yang paling atas biasanya semacam mahkota. Selalu bilangan atapnya ganjil, kebanyakan jumlah atapnya tiga atau lima. Atap tumpang ini terdapat juga di Bali pada upacara ngaben atau relief candi Jawa Timur. Kedua, tidak ada menara karenanya pemberitahuan shalat dilakukan dengan memukul bedug. Dari masjid tertua, hanya di Kudus dan Banten yang ada menaranya. Kedua menara ini pun tidak seragam. Menara Kudus tidak lain adalah sebuah candi Jawa Timur yang telah diubah, disesuaikan penggunaannya dan diberi atap tumpang, sedangkan menara masjid Banten adalah tambahan dari zaman kemudian yang dibangun oleh Cordell, pelarian Belanda yang masuk Islam, yang bentuk-bentuknya seperti mercusuar.
Ketiga, masjid-masjid tua, bahkan masjid yang dibangun di dekat Istana Raja Yogya dan Solo mempunyai letak yang tetap. Di depan istana selalu ada lapangan besar dengan pohon beringin kembar, sedangkan masjid selalu terletak di tepi barat lapangan. Di belakang masjid sering terdapat makam-makam. Rangkaian makam dan masjid ini pada hakikatnya adalah kelanjutan dari fungsi candi pada zaman Hindu-Indonesia.
Di samping unsur zaman Hindu-Indonesia, terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan, seperti Masjid Minang Kabau yang mendapat pengaruh “rumah gadang” Masjid Kebon Jeruk Jakarta (1789) yang memperlihatkan pengaruh Belanda, dan Masjid Agung Palembang (terutama menaranya) dipengaruhi seni bangun Tionghoa.
Setelah Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan negara lain, maka unsur lama secara berangsur-angsur hilang. Pada masa peralihan ke arah corak baru masih sering terlihat perpaduan antara keduanya, terutama pada atapnya, jumlah atapnya masih tumpang dua, yang ketiga diganti dengan kubah peniruan dari masjid Timur Tengah atau India.

Pada tahap selanjutnya, atap tumpang ditinggalkan dan ciri masjid menjadi kubah, misalnya Masjid Kutaraja yang didirikan oleh Belanda tahun 1878 sebagai pengganti masjid lama yang terbakar. Kemudian masjid yang menyerupai Taj Mahal India adalah Masjid Syuhada di Yogyakarta dan Masjid Al-Azhar di Jakarta. Ada juga bentuk masjid yang terpengaruh Ottoman style (Byzantium) seperti tampak pada Masjid Istiqlal yang bentuk kubahnya setengah lingkaran ditopang oleh pilar-pilar yang tinggi besar. Terakhir, bentuk masjid dengan kesuksesan meruncing meniru gaya India seperti Masjid al-Tien di Taman Mini Indonesia Indah.
Reactions:

Post a Comment

 
Top