Sumber Gambar: www.ilawati-apt.com

Betapapun seorang da’i harus aktif bekerja dan berbicara, tetapi keanggungan kepribadiannya harus tetap dijaga. Keanggunangan da’i dapat dijaga melalui hal-hal berikut. Pertama, tidak terlalu banyak bicara, bicara hanya dalam hal yang diperlukan saja. Kedua, tidak terlalu banyak tingkah, jangan terlalu banyak menggerakkan badan dan tangan dalam hal yang tidak memerlukan gerakan. Ketiga, menjadi pendengar yang baik dari lawan bicaranya. Keempat, jika ditanya seseorang, jangan menjawab secara spontan, tetapi diam sejenak sebelum menjawab. Kelima, tidak terlalu banyak bercanda, apalagi berbau pornografi. Keenam, menjaga jarak dalam pergaulan dengan orang-orang yang sudah dikenali sebagai orang yang tidak baik. Ketujuh, menjaga diri dari citra negatif tertentu. Misalnya, duduk di pinggir jalan, makan sambil berjalan, atau makan di warung secara sembarangan, tertawa terlalu keras, berpakaian dengan mode yang tidak lazim, dan sebagainya.

Selera tinggi juga dapat menunjang keanggungan. Seorang da’i yang berselera tinggi artinya ia tidak merasa puas denga hasil kerja yang tidak sempurna. Konsepnya tentang pengembangan masyarakat juga memiliki standar optimal. Jika ia berpikir mendirikan sekolah misalnya, maka dalam pikirannya adalah sekolah bermutu, jika menyusun program peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka konsepnya tentang kesejahteraan juga memenuhi standar maksimal, meski pelaksanaannya mungkin bertahap. Meski begitu selera tinggi menghalangi seorang da’i untuk hidup sederhana, sebaliknya kesederhanaan justru menambah keanggungan, yakni hidup sederhana tetapi gagasannya besar.
Reactions:

Post a Comment

 
Top