Sumber Gambar: umayaika.wordpress.com

Bukan saja sang anak, orang tua pun mempunyai kewajiban terhadap anak yang harus ditunaikan. Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah sebuah wujud aktualitas hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua.
1. Memberikan Nafkah
Diantara hak anak adalah hak untuk hidup dan mendapatkan kebutuhan yang cukup dari orang tuanya. Yaitu berupa nafkah yang halal dan baik. halal meskipun sedikit, akan berdampak baik kepada perkembangan anak.
Rasulullah saw bersabda kepada Saad bin Abi Waqas: "Sesungguhnya orang yang menelan sepotong barang haram dalam perutnya tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari. Hamba manapun yang makanannya dihasilkan dari makanan yang haram dan hasil riba, maka neraka lebih pantas sebagai tempatnya."
Janganlah memberikan nafkah kepada orang-orang yang kita cintai dengan makanan yang haram. hendaklah selalu yakin bahwa Allah swt telah mengatur rizki bagi tiap-tiap hambanya, dan tidak akan membiarkan hambanya berada dalam kesulitan diluar kesanggupannya.
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ                                                       
Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka. ( QS. Al-An’am: 151)
Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa orang tua mempunyai kewajiban agar anak tetap bisa hidup betapapun susahnya kondisi ekonomi orang tua. Ayat itu juga memberi jaminan kepada kita bahwa Allah pasti akan memberikan rizqi baik kepada orang tua maupun sang anak, dengan catatan orang tua mau berusaha dengan sungguh-sungguh.
2. Menyusui
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS aI-Baqarah: 233)
Dilihat dari sisi medis air susu ibu pada beberapa hari setelah kelahiran mempunyai beberapa kelebihan untuk bayi, seperti mengandung zat antibody yang sangat diperlukan oleh bayi. Bayi yang memperoleh air susu jenis ini akan mempunyai daya kekebalan tubuh yang lebih baik.
Islam memerintahkan kepada ibu yang baru melahirkan untuk menyusui anaknya sampai dua tahun penuh, dan boleh tidak menyusuinya hanya bila ada alasan yang dapat diterima secara hukum Islam.
Karena secara psikologi menyusui anak sampai dua tahun ini akan menumbuhkan pengaruh positif terhadap sang anak baik secara fisik maupun secara kejiwaan.
3. Memberi Nama yang Baik
Kebanyakan masyarakat kita terjebak dengan ungkapan "apalah arti sebuah nama", ini amat berbeda dengan cara pandang Islam terhadap nama, nama merupakan do'a, harapan orang tua untuk kebahagiaan sang anak. Disampaikan dalam Hadits riwayat Abu Daud bahwa Rasulullah selalu mengganti nama-nama yang tidak baik dengan nama yang baik. nama Ashiyah yang bermakna orang yang diganti dengan Jamilah yang bermakna cantik, Harb (perang) diganti dengan Salman (damai), Bani Mughawiyah (keturunan yang menipu) diganti dengan Bani Rusydi (keturunan yang mendapat petunjuk) dan masih banyak nama-nama lainnya yang diganti oleh Rasulullah.
Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”
Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap anak anak. Sehingga tertanam didalam diri anak bahwa namanya merupakan bagian dari harapan-harapan orang tuannya, ubahlah kebiasaan memberi nama anak dengan nama-nama yang tak bermakna, apalagi nama orang-orang kafir. Setidaknya di padang masyhar nanti mereka yang bernama baik akan dipanggil dengan nama yang baik.
4. Mengaqiqahkan Anak
Aqiqah merupakan implementasi rasa syukur kepada Allah swt atas anugrah anak yang diberikan kepada kedua orang tua. Anak diaqiqahkan dengan menyembelih dua ekor kambing untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk perempuan.
Rasulullah saw menjelaskan mengenai perintah  aqiqah;
"Tiap-tiap seorang anak terikat dengan ‘aqiqahnya. Disembelih (‘aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan dicukur serta diberi nama dia." (HR. at-Turmudzi)
5. Mendidik  anak
Mendidik anak merupakan hal yang tidak semudah kelihatannya, pendidikan anak menjadi kewajiban kedua orang tua, bukan hanya ayah tetapi juga ibu. Maka hendanya suami dan istri saling bekerja sama.
Pendidikan anak bukan saja pada aspek keduniaan saja, tetapi aspek akhirat harus pula mendapatkan porsi yang sedikit lebih banyak, minimal seimbang.
Pendidikan agama menyangkup pendidikan etika, pendidikan agama menyangkup pendidikan psikologi hal ini disebabkan yang disentuh oleh pendidikan agama bukan hanya akal, tetapi menyentuh hingga kedalam hati dan jiwa.
Sebuah riwayat menyebutkan tatkala Umar bin Khatab menjadi amirul mukminin datanglah seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Umar bin Khatab berkata kepada anak orang tersebut, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah swt karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak ini menyela. “Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban untuk memenuhi hak anak?”
Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. dan Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”
Mendengar uraian dari Khalifah Umar ra anak tersebut menjawab, “DemiAllah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”
Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu ciri orang tua yang baik. Pendidikan tersebut bukan hanya pada satu hal saja tetapi merupakan pendidikan menyeluruh yang memberikan sentuhan-sentuhan ilmu melalui kasih sayang, pendidikan hikmah melalui keteladanan. Pendidikan keteladanan akan sangat membekas pada yang anak, karena satu sikap teladan akan lebih memberikan pengaruh dari pada nasehat-nasehat. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.
Abdullah bln Abbas, dia berkata: Suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata, ‘Wahai anak, Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Apablla engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertotongan, maka mohonlah pertotongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering.”              (HR. Muslim)
Seorang anak terlahir di atas fitrah, suci tanpa noda, tanggung jawab selanjutnya orang tuanya yang akan memberikan warna pada anak tersebut.
Rasulullah Bersabda: "Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi". (HR. Muslim)

Maka orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang ia perbuat kepada anaknya, apakan ia mendidik anaknya menjadi muslim, ataukah ia membiarkan anaknya tersesat. Maka dalam hal ini orang tua haruslah memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam.  Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.  Cara menyampaikan informasipun bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.  Pada tahap ini orang tua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang.  Sebab, pendidikan tidaklah seperti membalikan telapak tangan anak, anak tidak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita, tetapi memerlukan proses.
Reactions:

Post a Comment

 
Top