Sumber Gambar: filkomupn.blogspot.com

Seorang da’i sekurang-kurangnya harus mengamalkan apa yang ia serukan kepada orang lain. Perbuatan seorang da’i tidak boleh melecehkan kata-katanya sendiri, apa yang ia demonstrasikan kepada masyarakat haruslah apa yang memang menjadi keyakinannya. Sebab inkonsistensi antara kedual hal tersebut akan membuat seruan dakwahnya tidak berbobot dan tidak berwibawa di depan masyarakat. Seorang da’i yang baik tidak berani mengajak orang atas apa yang ia sendiri tidak menjalankannya, dan secara moral ia juga tidak berani melarang sesuatu yang ia sendiri tidak meninggalkannya. Sebagaimana dalam al-Qur’an dijelaskan, “Apakah kalian menyuruh orang lain berbuat kebajikan seraya melupakan dirimu sendiri (untuk melakukannya) padahal kalian membawa al-Kitab, apakah kalian tidak mempunyai akal. (QS. Al-Baqarah [2]: 44).
Jadi, orang yang memberi nasihat kepada orang lain tetapi ia sendiri tidak menggunakan nasihat itu adalah bagaikan orang yang mengetengahkan hal-hal yang dapat dipahami oleh akal sehat. Seorang da’i terlebih dahulu harus mengambil nasihat itu, baru kemudian menasihati orang lain, ia harus lebih dahulu mengetahui, baru memberi tahu, ia harus mengambil petunjuk lebih dahulu, baru memberi petunjuk. Perumpamaan seorang da’i yang tidak konsisten adalah seperti buku tulis, ia memberi manfaat, tetapi ia sendiri tidak dapat mengambil manfaat atau seperti sebatang lilin yang menyala, menerangi orang lain tetapi ia sendiri terbakat.
Idealnya, seorang da’i adalah seperti matahari, ia membuat bulan bercahaya, tetapi sinat matahari tetap lebih terang. Atau seperti api yang memanaskan besi, besinya menjadi panas, tetapi panasnya api tetap lebih tinggi, atau seperti minyak wangi, membuat harum orang lain, tetapi dirinya tetap lebih harum.
Untuk menjadikan pesan dakwah itu sampai kepada mad’u tepat waktu dan tepat sasaran, seorang da’i harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang semua hal yang berhubungan dengan masyarakat mad’u, bahasanya, tradisinya, dan temperamennya sehingga da’i tidak terjebak dalam perbuatan bodoh yang sia-sia. Secara lebih rinci, ilmu bantu yang harus dimiliki oleh seorang da’i adalah, sejarah, ilmu jiwa, geografi wilayah dakwahnya, ilmu akhlak, perbandingan agama dan paham-paham madzhab, bahasa, dan budaya setempat.
Sejalan dengan sifat kejuangan dan perumpamaan da’i sebagai matahari, seorang da’i dengan senang hati akan menjajakan ilmunya, kepada orang yang mau maupun yang tidak mau. Jika mad’u membuka pintu hatinya, dengan semangat da’i akan meresponnya, jika mad’u masih menutup pintu hatinya di lain waktu, begitulah seterusnya. Oleh karena itu, tidak ada kamusnya seorang da’i menyembunyikan ilmunya dari mad’u. Ilmu itu sendiri, semakin banyak diberikan justru menjadi semakin tajam dan bertambah.

Sebagai pribadi, pada dasarnya seorang da’i dapat diibaratkan sebagai danau, menampung air hujan, menyimpannya dan menyediakan diri bagi orang yang membutuhkannya. Dalam puncak kerjanya, seorang da’i dapat diibaratkan sebagai ember yang membawa air dari danau untuk disiramkan ke pohon-pohon yang kekeringan. Jadi, ilmu, yang dipelajari oleh seorang da’i adalah diperuntukkan bagi kepentingan mad’u. Oleh karena itu, ia tidak akan kikir terhadap ilmunya.
Reactions:

Post a Comment

 
Top