Sumber Gambar: sakkal.com

Huruf atau tulisan adalah sebagai salah satu alat untuk menyatakan apa yang ada di dalam pikiran manusia. Ketika orang belum lagi mengenal alat-alat komunikasi modern seperti radio, marconi, telepon, dan sebagainya, huruf adalah alat penghubung dan pengantar yang penting dalam hidup kemasyarakatan dan pengetahuan.
Fase pertama dari silsilah khat Arab ialah khat Mesir kuno, kemudian terpecah ke khat Finiqi, menjadi al Rami dan Musnad dengan macam-macamnya seperti al-Shafawi, al-Tsamuli dan al-Lihyani di utara Jazirah Arab dan al-Himyari di selatan Jazirah Arabia. Terdapat perbedaan pendapat para rawi Arab dan peneliti dari bangsa asing tentang silsilah khat ini. Peneliti bangsa asing berpendapat bahwa dari al khat al Arami timbul al khat al Nabathi dan al Suryani.[1]
            Pada awal abad ketujuh Masehi, terjadi sedikit perkembangan penulisan di kalangan masyarakat Jazirah Arabia. Tulisan sederhana (belum sempurna) telah ada, seperti dibuktikan oleh temuan arkeologis (prasasti pada batu, pilar, dan seterusnya) di jazirah. Selain itu, sisa-sisa paleografis (tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit( tertentu membuktikan bahwa orang Arab zaman itu mempunyai pengetahuan tentang seni tulis.[2]
            Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab kurang terbiasa membaca dan menulis. Mereka lebih menyukai tradisi menghafal. Syair, nama istilah, transaksi, atau perjanjian disampaikan dari mulut ke mulut tanpa dicatat. Hanya sedikit kalangan tertentu, seperti kalangan bangsawan Arab, yang menguasai keterampilan membaca dan menulis. Sampai pada masa awal Islam, yakni zaman Rasulullah SAW dan al Khulafa ar Rasyidun (Khalifah Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib; 632-661), corak kaligrafi masih kuno dan mengambil nama yang dinisbahkan kepada tempat tulisan dipakai, seperti Makki (tulisan Mekkah), Madani (tulisan Madinah), Hejazi (Hijaz), Anbari (Anbar), Hiri (Hirah), dan Kufi (Kufah). Kufi merupakan yang paling dominan dan satu-satunya kaligrafi yang dirajakan untuk menulis mushaf (kodifikasi) al-Qur’an sampai akhir kekuasaan al Khulafa ar Rasyidun.
            Islam menghendaki orang Islam belajar menulis pada masa ini, sebagian sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa ada tujuh belas laki-laki dan tujuh wanita yang bisa menulis di Mekkah saat itu, dan sebagian sumber lain menyebutkan terdapat empat puluh dua orang penulis. Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para tawanan perang Badar untuk mengajari kaum muslimin menulis. Sehingga muncullah para sahabat yang ahli dalam menulis atau melakukan pencatatan ayat-ayat al-Qur’an, seperti Ali bin Abi Thalib. Pada masa-masa awal Islam, yakni masa Rasulullah dan khulafa ar-Rasyidun berkembang jenis khat al Hairi, al Anbari, al Kufi. Selanjutnya jenis khat ini pun berkembang pada masa Umayyah.[3]




[1] Iskandari, Ahmad, dan Mushthofa, ‘Anani, Al-Wasit Fi Al-Adab Al ‘Arabi Wa Tarikhi, (Mesir: Dar Ma’arif, 1961), h. 34.
[2]Faruqi, Ismail dan Lois Lamya Faruqi, Atlas Budaya Islam, (Bandung: Mizan, 1998), h. 391.
[3]Jaudi, Muhammad Husain, Alfan al-‘Araby al-Islami, h. 33-34.

Reactions:

Post a Comment

 
Top